LANDASAN TEORITIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Kata
media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti
“tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Menurut
Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan
lingkungan sekolah marupakan media.
Fleming
(1987: 234) menyatakan media berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif
antara dua pihak yaitu siswa dan isi pelajaran. Hainich dan kawan-kawan
(1982) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi
antara sumber dan penerima.
Media
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dalam konteks ini, kita
akan menggunakan 4 sudut tinjauan, yaitu: tinjauan psikologis, teknologis,
empirik, dan filosofis.
a.
Landasan
Psikologis.
Belajar adalah
proses yang kompleks dan unik; artinya, sesorang yang belajar melibatkan segala
aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari semua aspek
kepribadian ini akan nampak dari perilaku belajar orang itu. Perilaku belajar
yang nampak adalah unik; artinya perilaku itu hanya terjadi pada orang itu dan
tidak pada orang lain. Setiap orang memunculkan perilaku belajar yang berbeda.
Keunikan perilaku belajar ini disebabkan oleh adanya
perbedaan karakteristik yang menentukan perilaku belajar, seperti: gaya belajar
(visual vs auditif), gaya kognitif (field
independent vs field dependent), bakat, minat, tingkat kecerdasan,
kematangan intelektual, dan lainnya yang bisa diacukan pada karakteristik
individual siswa.
Perilaku belajar siswa yang kompleks dan unik ini
menuntut layanan dan perlakuan pembelajaran yang kompleks dan unik pula untuk
setiap siswa. Komponen pembelajaran yang bertanggungjawab untuk menangani
masalah ini adalah strategi penyampaian pembelajaran, lebih khusus lagi media
pembelajaran. Strategi (media) pembelajaran haruslah dipilih sesuai dengan
karakteristik individual siswa. Ia sedapat mungkin harus memberikan layanan
pada setiap siswa sesuai dengan karakteristik belajarnya. Umpamanya, siswa yang
memiliki gaya, belajar visual harus mendapatkan rangsangan belajar visual,
seperti halnya siswa yang memiliki gaya auditif harus mendapatkan rangsangan
belajar auditif.
Perubahan perilaku sebagai akibat dari belajar dapat
dikelompokkan ke dalam 3 aspek, yaitu: kognitif, sikap, dan keterampilan.
Setiap aspek menuntut penggunaan media pembelajaran yang berbeda. Artinya,
belajar kognitif memerlukan media yang berbeda dibandingkan siswa yang belajar
aspek lainnya. Atas dasar ini, diperlukan strategi penyampaian yang menggunakan
multimedia untuk memenuhi tuntutan belajar aspek yang berbeda-beda.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum
konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada
beberapa pendapat. Pertama, Jerome
Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan
urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan
simbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic
representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk
anak tetapi juga untuk orang dewasa. Kedua,
Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada
tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai
jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak. Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang
konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman
nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke
siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan
terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
b.
Landasan
Teknologis.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah
memudahkan belajar siswa. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog
di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi
kebutuhan setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknologi bekerja mulai dari
pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran
melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi,
evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk
memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunannya dan
akhirnya menggunakannya baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih
luas lagi (diseminasi). Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan
berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media
lainnya bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan
rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian,
proses belajar setiap siswa akan amat dimudahkan dengan hadirnya media
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya.
Jadi, dalam kaitannya dengan teknologi, media
pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang,
prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari
cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan
masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan
terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam
bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam
fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga
menjadi sistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi
pesan, orang,bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
c.
Landasan
Empirik.
Berbagai
temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi anatara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia
belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Siswa
yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mendapatkan keuntungan dari menggunakan
media visual, seperti film, video, gambar atau diagram. Sedangkan siswa yang
memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan
media pembelajaran auditif, seperti rekaman suara , radio atau ceramah dari
guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe
belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan
rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan
atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara
karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik
media itu sendiri. Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang
akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual
siswa menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan
didasarkan pada kesukaan atau kesenanangan pengajar, tetapi dilandaskan pada
kecocokan media itu dengan karakteristik siswa, disamping kriteria lain yang
telah disebutkan sebelumnya.
d. Landasan
filosofis
Ada
suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbaga jenis media hasil teknologi
baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi.
Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi
dehumanisasi. Benarkah pendapat tersebut? Bukankah dengan adanya berbagai media
pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media
yang lebih sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain, siswa
dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik
cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan
teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut
tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam
proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang
memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang
berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau
tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan
humanis. Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik
perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan
pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa.
Permasalahan :
Jelaskan bahwa kesesuaian pemilihan media dengan karakteristik
siswa akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Bagaimana tanggapan kalian ? Beri contoh!
DAFTAR PUSTAKA
Heinich, Mollenda, Russel, Smaldino. 1996. Instructional Media and Technologies for
Learning. Prentice Hall. Engelwood,
New Jersey
Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan
pemanfaatannya.
Jakarta: Cv. Rajawali.
Ibrahim,
H. 1997. Media pembelajaran: Arti,
fungsi, landasan pengunaan, klasifikasi,
pemilihan, karakteristik oht, opaque, filmstrip, slide, film, video, Tv, dan
penulisan naskah slide. Bahan
sajian program pendidikan akta mengajar III-
IV.FIP-IKIP
Malang.
menurut saya kesesuaian dengan Gaya Belajar Peserta didik. Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis peserta didik, bahwa peserta didik belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar peserta didik.Perhatikan Tingkah Laku Siswa. Untuk awalan perhatikan saja tingkah laku anak didik kita dalah aktivitas sehari-hari nya seperti apa dalam lingkungn sekolah, kalau perlu lingkungan rumahnya seperti apa juga kita pelajari. terkadang sikap di sekolah dan di rumah dari anak didik kita bertolak belakang. mungkin di rumahnya pendiam tapi di sekolah bandel, atau sebaliknya. Banyak faktor yang menjadikan mereka memiliki 2 karakter.
BalasHapus1. Dekati Siswa. Setelah kita perhatikan dengan baik-baik jangan kita langsung judge atau menimpulkan sembarang sikap dari siswa-siswa kita, tapi kita perlu tahu juga secara intern apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan. dalam konteks ini yang di maksud dengan dekati bukan dekati secara fisik tapi dekati secara emosionalnya.
Ikuti Jalan Pikirannya. Mungkin agak aneh dengan tips yang ketiga ini tapi bisa juga menjadi solusi untuk mengetahui karakter para siswa kita, pada saat kita berbincang-bincang dengan salah satu anak didik kita jika kita ingin mengetahui karakter yang sebenarnya dari anak tersebut, ikuti saja dulu apa yang dia ingin bicarakan, anggaplah kita ini sebagai pendngar yang baik, dari pembicaraanya pasti mengarah tentang kperibadiannya, jadi secara tidak langsung kita bisa tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan apa apa yang dia inginkan, dan dari pembicaraan itu juga kita bisa lebih mengenal secara internal "ternyata anak ini begini" "ternyata anak ini begitu".
2. Lakukan Sharing Tertutup. Tips yang terakhir ini seharus ditaruh dipoint tiga secara sistematisnya tapi tidak apalah mau ditaruh dimana saja yang penting bagaimana prakteknya, betul ? Kadang seorang anak tidak akan mengeluarkan karakter aslinya jika dilihat orang banyak, karena tentu mereka tidak ingin terlihat pencundang dengan mengeluarkan sisi negatif dari mereka dan peran kita jangan sekali-kali mempermalukan mereka didepan teman-temannya karena secara tidak langsung akan menjatuhkan mental anak tersebut.
saya
saya ingin mencoba menjawab pertanyaan anda, menurut saya media pembelajaran yang akan di pakai oleh seorang guru memang akan mempengaruhi prestasi siswa karena jika siswa tidak bisa belajar dengan media pembelajaran yang guru gunakan maka tujuan pembelajaran pun tidak tercapai,karena siswa tidak akan memahami materi yang telah guru sajikan. misalnya seorang siswa lebih menyukai contoh konkrit dari sebuah persoalan kimia dan adalagi yang lebih suka melihat daripada mendengar maka seorang guru bisa menggunakan praktikum sederhana atau denga video, jika siswa senang saat belajar maka ini akan lebih bermakna dan dia akan lebi bersemangat belajar dan akhirnya diharapkan siswa tersebut dapat meningkatkan prestasinya.
BalasHapusSaya ingin menjawab pertanyaan anda, seperti yang kita ketahui media pembelajaran merupakan alat bantu guru untuk menerangkan suatu materi agar lebih mudah di pahami sisiwa. Dalam pemilihan media pembelajatan yang tepat kita hatus menyesuaikan dengan materi yang akan kita ajar. Contohnya dalam materi pelajaran kimia yaitu penurunan titik beku,jika dijelaskan dengan metode ceramah saja dan hanya menggunakan papan tulis maka tingkat pemahaman siswa hanya sebagai pengetahuan / hapalan saja. Namun jika kita menggunakan media seperti percobaan penurunan titik beku yaitu pembuatan es krim putar dan meminta siswa menyimpulkan sendiri apa yang di pahaminya dari percobaan tersebut berkaitan dengan materi penurunan titik beku maka tingkat pemahaman siswa akan meningkat. Jadi, dari contoh diatas kita simpulkan bahwa dengan menggunakan media bisa meningkatkan koognitif anak dari pengetahuan saja (C1) menjadi pemahaman (C2). Semakin tinggi tingkat pemahaman siswa maka peluang untuk meraih prestasi yang lebih baik dari sebelumnya akan lebih besar dan semakin tinggi tingkat ketersesuaian media yang digunakan dengan materinya juga akan mempengaruhi prestasi siswa itu.
BalasHapussaya setuju dengan pendapat desi bahwasannya media pembelajaran yang merupakan alat bantu untuk memperjelaskan suatu pelajaran yang akan diajarkan soleh sorang guru agar siswa mudah memahami pelajaran yang akan diajarkan dan dalam memilih suatu media pembelajaran guru harus menyesuaikan dengan tujuan utamanya dan prinsip-prinsip dasar dalam pembelajara agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan efektif .
HapusTerimkasih atas tanggapannya teman-teman... menangapi jawaban nadia diaman media pembelajaran guru harus menyesuaikan dengan tujuan dan prinsip dsar dalam pembelajaran. nah sebebarnya yang dimaksud prisnsip dasar itu yang seperti apa? berikan penjelasan dan contohnya
Hapussaya akan mencoba menjawab permasalahan diatas . saya setuju bahwa pemilihan media akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa dikarenakan media merupakan salah satu faktor penunjang perstasi siswa yaitu sumber belajar dapat berupa media atau alat bantu belajar serta bahan buku penunjang. Alat bantu belajar adalah semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam belajar. Belajar akan lebih menarik, kongkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasilnya lebih bermakna. sehingga siswa lebih mudah untuk memahami peajaran yang disampaikan oleh guru.
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan anda, bahwa pemilihan media pembelajaran tidak boleh didasarkan pada kesenangan atau kesukaan gurunya, melainkan harus memperhatikan aspek-aspeknya. pemilihan media pembelajaran harus berdasarkan karakteristik siswa karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri. karena jika dengan memperhatikan karakteristik siswa, siswa akan memperoleh keuntungan tersendiri, keuntungannya yaitu siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. nah oleh karena itu, hal tersebut tentunya akan berakibat pada prestasi belajar siswa.
BalasHapusKarakteristik siswa sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Siswa yang mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, siswa yang tidak mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
BalasHapusPerbedaan psikologis siswa dapat dimanfaatkan guru dalam mengelola kelas, terutama dalam penempatan anak di tempat duduk dan pengelompokkan anak berdasarkan media yang sesuai. jadi media disini harus disesuaikan dengan karakteristik siswanya. misalnya pada kelompok A mereka lebih suka belajar dengan cara mendengar, dan kelompok B lebih suka belajar dengan cara video,,jadi pemilihan media dengan karakteristik siswa akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Menurut saya pemilihan media harus disesuaikan dengan karakter siswa dalam belajar, misalnya siswa yg dapat memahami pembelajaran dengan mendengarkan atau dengan memperhatikan saja. Untuk mengatasi hal itu guru sebaiknya mengkombinasikan medianya dengan audio dan visual sehingga guru tersebut dapat menyampaikan materi melalui media dengan baik kepada siswa
BalasHapusBaik, terimakasih mutia. menanggapi jawbaan saudara, media itu harus disesuaikan dengan karakteristik siswa dalam belajar, nah kita ketahui dalam kls ada begutu banyak siswa dan berbagaimacam pula perangai/karakteristiknya. Sehingga bagaiman menyikapi hal ini?
Hapuspemilihan media yang terpenting harus selaras dan berhubungan dengan materi yang akan disampaikan, apabila materi dengan media sudah selaras dengan kombinasi yang baik didukung dengan adanya video, foto, audio, yang menarik sesuai dengan materi. maka tentu saya peserta didik akan senang karena kita ketahui bahwa peserta diidk sangat suka dengan pembelajaran yang menyenangkan
BalasHapusmemang sangat berpengaruh dalam pemilihan media dengan presttasi belajar siswa karena kebanyakan siswa akan lebih senang jika media yang digunakan menarik dan tidak membosankan. pemilihan media sangat berkaitan dengan ketepatan pemilihan materinya. untuk prestasi sebenarnya dapat dilihat dari cara, taktik dan teknik dari guru tersebut. walaupun medianya bagus tapi gurunya tidak bisa menyampaikan materi itu juga percuma. biarlah medianya sederhana namun cara penyampaian gurunya bagus. itu sangat menunjang prestasi dari siswa
BalasHapusBaiklah saya akan menambahkan dari jawaban dia
BalasHapusOleh karena itu Tugas pengguna adalah memilih media yang tepat dengan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi pembelajaran. Tentu saja hal ini tidaklah mudah, diperlukan analisis dan pertimbangan-pertimbangan yang matang sehingga membeli media berarti manfaat yang diperoleh bukan kesia-sian.
Baiklah saya mau mencoba menjawab permasalahan dari saudari novi
BalasHapusKesesuaian dengan Karakteristik Pembelajaran Siswa itu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar dimana dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa atau guru. Yaitu mengkaji sifat-sifat dan ciri-ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan. Contohnya jika multimedia yg kita gunakan kepada peserta didik itu tidak sesuai dengan peserta didiknya maka itu akan berpengaruh kepada pemahaman dan karakteristik peserta didik.